Headlines News :
Home » » Hujan Ini Mengingatkan Aku

Hujan Ini Mengingatkan Aku

Written By Muhammad faisal Ma'ruf on Minggu, 09 Juni 2013 | 07.04


Siang itu panas matahari seakan membakar kulitku, kutelusuri jalan demi jalan untuk melarikan diri dari orang-orang di rumahku yang tak pernah akur. Ayah dan ibuku selalu saja bertengkar. Ayahku memang sangat kejam, dia selalu menyakiti hati ibuku. Sedangkan kakak laki-laki ku selalu saja melawan ayah dan ibuku. Untuk apa aku berada di rumah ini? Aku butuh seseorang yang mau mendengarkan rahasia di balik kehidupanku ini. Aku tak tau harus mengadu kepada siapa.
Di balik peluhku yang terus berjatuhan, sesuatu melintas dipikiranku. Aku tau harus kemana! Aku akan menemui Vincent, sahabat pria yang sangat aku sayangi. Aku tak pernah dibuatnya berkecil hati. Memang sudah lama aku menyukai Vincent, sahabatku yang paling manis. Entah dari mana aku memulainya. Aku sudah jatuh terlalu dalam ke dalam hatinya. Tapi dia tak pernah sekalipun menoleh kearahku dan menyadari kalau sosoknya sangat berharga dimataku. Sudah begitu lama ku pendam perasaanku kepadanya. Tapi… Ah! Biarlah waktu yang akan mengatakan kepadanya.
Di tengah keterikan sang surya, aku berusaha menelepon dia. Sudah tiga kali aku meneleponnya tapi tak di angkat. Setelah mencoba beberapa kali, akhirnya dia mengangkat teleponku.
“Halo Nesya. Ada apa? Sorry ya, aku baru main basket di sekolah”
“Oh kamu main basket. Pantesan aja gak kedengeran telpon ku. Vin, aku mau curhat nih sama kamu. Bisa nggak?”
“Oh. Bisa banget, Nes. Kamu datang ke sekolah aja ya. Aku gak bisa jemput kamu. Aku gak bawa motor.”
“Oke, Vin. Kamu tunggu ya.”
Aku sampai di tempat tujuan, sekolah. Aku menemui Vincent yang tengah bermain basket bersama teman satu klub nya. Aku menatapi ketampanannya. Setiap kali melihatnya hatiku selalu tenang. Entah kenapa, aku begitu suka melihat senyumnya. Aku tak sadar jika dia sudah menoleh ke arahku dan melemparkan senyumnya kepadaku. Akupun membalas dengan senyum simpul.
“Nes, ayo kesini. Main basket, biar aku ajarin.”
Aku datang menghampirinya. “Nggak ah, Vin. Aku mau cerita sama kamu nih.”
“Oh, ya sudah Nes. Ayo kita duduk di kantin saja.”
Kami bergegas ke kantin. Terlihat begitu sunyi, lalu kami segera duduk dan sejenak Vincent menghapus keringatnya yang mengucur deras itu. Dia begitu tampan, dia adalah sosok yang pemberani dimataku. Dia selalu menjagaku. Entah, dia menyukaiku atau tidak. Dan aku tau jawabannya pasti tidak.
“Panas banget kan Vin?”
“Iya Nes, kamu gak kepanasan? Kalo kamu kepanasan, biar aku beli minuman.”
“Ah nggak usah Vin. Gak panas kok.”
“Hmm. Ya sudah Nes.” Sambil tersenyum kecil kepadaku.
“Vin, aku mau cerita tentang orangtua aku nih.”
“Kenapa dengan mereka Nes?”
“Ayah dan ibuku selalu bertengkar, sedangkan kakakku selalu menyusahkan ibuku. Aku sangat sedih.”
“Memangnya penyebab ayah dan ibu kamu bertengkar apa Nes?”
Aku menceritakan semuanya kepada Vincent. Tampak langit yang tadinya begitu terik berubah menjadi mendung dalam waktu 1 jam. Begitu cepat, dan tidak ada yang menduga-duga. Ya memang begitulah kekuasaan-Nya.
“Vin, rasanya aku sudah tidak betah hidup lagi. Aku ingin sekali mengakhiri hidupku.”
“Astaga Nesya… Kenapa kamu jadi bodoh seperti ini? Kamu mau lihat ibu kamu terus-terusan nangis?”
“Enggak Vin. Aku sayang banget sama ibu. Tapi aku ga tau harus gimana. Perempuan jalang itu sudah merusak segalanya. Dia sudah merebut kebahagiaan keluargaku.”
“Nesya, Tuhan tidak membiarkanmu dan Tuhan tidak melupakanmu. Tuhan hanya memberi cobaan kecil kepada kamu. Kamu gak boleh menyerah gitu aja. Kesabaran kamu sedang di uji, Nes. Yang Maha Kuasa pasti membalaskan perbuatan perempuan itu. Tidak mungkin Tuhan melupakan gadis baik dan manis sepertimu.”
Mendadak halilintar bergemuruh, sesaat itupun hujan turun dengan derasnya.
“Tuh kan, Nes. Hujan turun saat kamu nangis. Tandanya langitpun menangis melihat kamu menangis”
Vincent memelukku dengan eratnya. Sedangkan aku hanya bisa berisak tangis dan terus menangis.
“Udah… udah Nes. Jangan nangis lagi ya sayang” Vincent menghapus air mataku dengan jemarinya. Dia menatapku dalam sambil mengelus rambutku.
“Tuh kan, Nes. Cantiknya jadi hilang.” Seketika aku membalas pelukannya dengan erat.
“Vin, aku sayang sama kamu. Aku suka sama kamu, sudah lama banget” kataku dengan menatap matanya.
“Iya, Nes. Aku tau kok, dan aku juga sayang sama kamu. Bukan sekedar sahabat. Aku mau kamu menjadi milikku dan aku berjanji selalu ada buat kamu dan menjaga kamu.” Katanya.
“Iya, Vin. Janji yah?” aku menjulurkan kelingkingku ke arahnya. Dan dia melingkarkan kelingkingnya ditanganku.
“Janji jari kelingking Nesya” Dia melanjutkan pelukan hangatnya dan memberikan sebuah kecupan kecil di dahiku.
Entahlah, hujan ini menggambarkan apa atau ia hanyalah hujan saja. Hanya sekedar. Dan entahlah, akan berapa banyak kata entah lain untuk menggambarkan hujan ini. Namun dari seluruh yang entah itu, ada satu yang masih sering membuatku mengingat lafal dari mulutnya yang selalu membuatku tersenyum.
Hujan yang turun sore ini membuatku mengingat kejadian 5 tahun lalu dengan sahabat sekaligus kekasihku, Vincent. Dia menepati janjinya hingga kini. Dia adalah ayah dari seorang gadis kecilku. Aku menyayanginya dan mencintainya. Janji jari kelingking itu menyimbolkan kesumpah setiaannya kepadaku. Dia benar-benar menjadi pelindungku. Dan itu sudah lama terjadi, bahkan sebelum aku menjadi kekasihnya ataupun istrinya. Dengan hal ini semua aku teringat lagu utopia-hujan.
Rinai hujan basahi aku, temani sepi yang mengendap. Kala aku mengingatmu, dan semua saat manis itu. Segalanya seperti mimpi, kujalani hidup sendiri. Andai waktu berganti, aku tetap takkan berubah. Aku selalu bahagia saat hujan turun. Karena aku dapat mengenangmu untukku sendiri. Selalu ada cerita tersimpan di hatiku. Tentang kau dan hujan, tentang cinta kita yang mengalir seperti air. Aku selalu bahagia, saat hujan turun. Karena aku dapat mengenangmu untukku sendiri. Aku bisa tersenyum sepanjang hari, karena hujan pernah menahanmu disini untukku…
Cerpen Karangan: Nona Nada Damanik
Blog: littlethingaboutnona.blogspot.com
Cerita ini hanya fiktif semata. Mohon maaf jika ada kesamaan nama, cerita dan sebagainya.
Nama : NONA NADA DAMANIK
Umur : 15 tahun
Jenjang sekolah : SMA kelas 1 – SMA NEGERI 1 Pematangsiantar.
Blog : littlethingaboutnona.blogspot.com
Facebook : Nona Nada Damanik
Twitter : @NonaNDamanik
Share this article :
 
█║▌│█│║▌║││█║▌│║▌║█║║▌
DUNIA ONLINE INDONESIA 2015 | SomeRight Reserved Copyright © 2015. Dunia Online Indonesia - All Rights Reserved
Template Modified by DUNIA ONLINE INDONESIA | DUNIA ONLINE